Senin, 03 Maret 2025

Sadranan Sasanalaya Dusun Berut Kembali Diadakan

 


Magelang, 26 Februari 2025 – Masyarakat Dusun Berut dan Dusun Gumuk, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, kembali menggelar tradisi Sadranan atau yang kerap disebut dengan ‘nyadran’. Tradisi Sadranan ini merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang telah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Sadranan menjadi tradisi yang dilaksanakan untuk menghormati arwah para leluhur dan memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi Sadranan ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa, sedangkan untuk Dusun Berut sendiri Sadranan selalu jatuh pada tanggal 27 bulan Ruwah. Tradisi sadranan diadakan pada bulan Ruwah, karena dalam bahasa Jawa dipahami sebagai bulan ‘Ngaruhke Arwah’ (jw), yang berarti mengunjungi dan mendoakan para arwah.

Tahun 2025 ini menjadi tahun yang kedua, khususnya bagi masyarakat Dusun Berut melaksanakan tradisi Sadranan ini di area pemakaman atau ’sasanalaya’, karena sebelumnya tradisi Sadranan ini diadakan hanya di Pendopo Dusun Berut oleh karena keadaan pandemi. Pelaksanaan Sadranan di Dusun Berut dihadiri oleh ratusan warga masyarakat Dusun Berut dan Dusun Gumuk, serta warga masyarakat setempat yang leluhurnya dimakamkan di Pemakaman Dusun Berut.

Mulai dari pukul 06.30 WIB, masyarakat sudah berbondong-bondong menuju ke pemakaman dengan membawa ‘tumpeng’ dan ada juga yang membawa ‘klebut’. Tumpeng menjadi simbol dalam tradisi Sadranan yang melambangkan doa yang tertuju kepada Tuhan karena bentuknya yang mengerucut. Antusias masyarakat sangatlah tinggi, sebab Sadranan dianggap sebagai momentum yang mengesankan dan selalu ditunggu-tunggu, terutama sebagai momen perjumpaan keluarga atau saudara yang jarang berkumpul.

Kegiatan Sadranan dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan Perayaan Ekaristi bagi masyarakat yang beragama Katolik, dipimpin oleh Romo Agustinus Sudarisman, Pr, dilanjutkan dengan Tahlilan dan bacaan Surah Yasin bagi masyarakat yang beragama muslim yang dipimpin oleh Bapak Muhtajab. Toleransi agama tergambar dalam indahnya keberagaman. Setelah berdoa bersama, tumpeng dibagikan, sehingga para masyarakat yang hadir pun dapat makan bersama. Tradisi Sadranan ini menjadi contoh nyata dari kebudayaan Jawa yang sangat kaya dan beragam.

Beberapa tokoh masyarakat memberikan pendapat bahwa Sadranan tahun 2025 ini terlaksana dengan lebih tertata. Dengan demikian, pelaksanaan Sadranan di Sasanalaya Dusun Berut tahun 2025 telah berhasil terlaksana sebagai simbol pelestarian tradisi Jawa yang sangat berharga. Harapannya, semoga tradisi Sadranan ini dapat terus dilestarikan terutama oleh generasi mendatang.


Oleh : Hedwigis Restu Pinasti )

Tags :

bm

trahgrowol

Kontributor Berita

Kami akan memperbarui informasi terkini yang terjadi di dusun Berut dan sekitarnya

  • trahgrowol
  • Februari 24, 1989
  • Berut, Sumber, Dukun, Magelang
  • dusunberut@gmail.com
  • 0858 6633 2950

Posting Komentar